Universitas Gadjah Mada Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • PROFIL
    • VISI DAN MISI
    • PENGELOLA
    • TENAGA PENDIDIK
    • TENAGA KEPENDIDIKAN
  • PROGRAM STUDI
    • Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Sarjana Terapan Teknologi Veteriner
  • AKADEMIK
    • KURIKULUM
    • KALENDER AKADEMIK
    • LAYANAN
    • BEASISWA
    • JADWAL PENDAFTARAN DAN PELAKSANAAN YUDISIUM
    • PADUAN TUGAS AKHIR
      • Panduan Tugas Akhir
      • Seminar Proposal
    • PENDAFTARAN WISUDA
  • KEMAHASISWAAN
    • KELUARGA MAHASISWA DEPARTEMEN
    • PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
  • ALUMNI
    • TRACER STUDY
    • LOWONGAN KERJA
  • PENELITIAN-PENGABDIAN
    • Informasi Penelitian
    • Informasi PPM
  • Hasil Survey
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Dari Citra Satelit hingga Dasar Laut: Mahasiswa UGM Gali Data di Taman Nasional Baluran

Dari Citra Satelit hingga Dasar Laut: Mahasiswa UGM Gali Data di Taman Nasional Baluran

  • Berita Terbaru
  • 21 July 2026, 07.14
  • Oleh: dep-thv.sv
  • 0

Situbondo, 20 Juli 2026 — Ketika sebagian besar orang mengunjungi Taman Nasional Baluran untuk melihat banteng di savana atau snorkeling di Pantai Bama, sembilan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada datang dengan tujuan yang berbeda, yaitu untuk menghasilkan data yang berguna bagi pengelola kawasan. Selama tujuh hari, 13–19 Juli 2026, mereka melaksanakan dua program kerja yang masing-masing menjawab kebutuhan Balai Taman Nasional Baluran.

Program kerja pertama adalah monitoring kebakaran hutan dan lahan. Ini bukan hanya program yang dimulai saat tiba di Situbondo. Persiapan sudah dilakukan di Yogyakarta pada 11 Juli 2026, dua hari sebelum keberangkatan. Citra Landsat 9 yang mencakup kawasan Taman Nasional Baluran diunduh dan diolah menggunakan QGIS untuk menghasilkan peta indeks NBR (Normalized Burn Ratio), yang dapat mendeteksi area dengan vegetasi kering, bahan bakar melimpah, dan bekas kebakaran dari kejadian sebelumnya.

“Dengan melihat data satelit terlebih dahulu, kami sudah tahu sebelum tiba di lapangan, zona mana yang paling kering, area mana yang pernah terbakar, dan titik mana yang perlu kami prioritaskan untuk dicek langsung. Ini membuat waktu kami di lapangan jauh lebih efisien,” jelas Muhammad Navies Arrasyi, salah satu anggota kelompok yang menangani pengolahan data citra.

Peta itu kemudian dibawa ke lapangan dan diuji pada 14–15 Juli di kawasan SPTN Wilayah II Karangtekok. Observasi dilakukan di tegakan hutan monokultur jenis Tectona grandis yang menunjukkan kondisi pasca kebakaran, dengan pengamatan difokuskan pada kondisi tutupan lahan sebagai representasi komponen bahan bakar dalam segitiga kebakaran. Dari perbandingan antara peta citra dan kondisi aktual, ditemukan kesesuaian yang cukup baik: area dengan nilai NBR rendah pada peta memang menunjukkan dominasi vegetasi kering dan serasah melimpah di lapangan, sementara kawasan dengan tajuk lebih rapat menunjukkan tingkat kerawanan yang lebih rendah.

SDG 13 — Penanganan Perubahan Iklim: Peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim. Pendekatan monitoring berbasis citra satelit yang divalidasi lapangan memperkuat kapasitas deteksi dini kebakaran di kawasan konservasi.

SDG 15 — Kehidupan di Darat: Laporan kerawanan kebakaran tervalidasi yang dihasilkan kelompok ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan strategi perlindungan kawasan Taman Nasional Baluran, khususnya di musim kemarau.

Program kerja kedua membawa kelompok ke tempat yang berbeda, yaitu perairan Pantai Bilik Jeding, SPTN Wilayah II Karangtekok, pada 18 Juli 2026. Tujuannya adalah mengidentifikasi kondisi terumbu karang di area meja transplantasi melalui instalasi rehabilitasi yang telah dipasang Balai Taman Nasional Baluran sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem pesisir.

Pengamatan dilakukan melalui snorkeling dengan metode Underwater Photo (UP) yaitu mendokumentasikan kondisi dan jenis karang secara langsung melalui foto bawah air. Hasilnya cukup informatif. Meja transplantasi didominasi oleh karang bercabang (branching coral) yang memang lazim digunakan dalam rehabilitasi karena laju pertumbuhannya yang relatif cepat. Sebagian besar fragmen menunjukkan warna normal, indikator awal bahwa zooxanthellae masih aktif dan karang dalam kondisi sehat. Beberapa jenis ikan karang, termasuk ikan badut (Amphiprion sp.), blue tang (Paracanthurus hepatus), dan ikan zebra dijumpai di sekitar meja transplantasi yang menandakan habitat buatan tersebut sudah mulai dimanfaatkan oleh komunitas biota laut.

“Melihat langsung bagaimana meja transplantasi itu bekerja, ada fragmen yang tumbuh, ada pula yang tidak berkembang, membuat kami memahami bahwa restorasi ekosistem bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan pemantauan yang konsisten, berkelanjutan, dan penuh ketelitian agar setiap perkembangan dapat dievaluasi dengan baik,” ungkap Bagas Oktariano.

SDG 14 —  Kehidupan Bawah Laut: Dokumentasi kondisi meja transplantasi karang di Pantai Bilik Jeding mengisi kebutuhan data terkini tentang perkembangan program restorasi ekosistem pesisir Taman Nasional Baluran, data yang tidak mudah dikumpulkan secara rutin oleh pengelola kawasan.

Kedua laporan yang dihasilkan kelompok ini diserahkan kepada Balai Taman Nasional Baluran sebagai data kerja, bukan sekadar dokumentasi akademik. Laporan kerawanan kebakaran dapat digunakan sebagai referensi spasial dalam menyusun strategi patroli dan pencegahan, sementara laporan identifikasi karang memberikan gambaran kondisi program transplantasi yang dapat menjadi dasar evaluasi dan perencanaan monitoring lanjutan.

Bagi Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM, pencapaian ini menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan vokasi yang berkualitas mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan. Program Studi Pengelolaan Hutan tidak sekadar membekali mahasiswa dengan teori pengelolaan hutan, tetapi juga memastikan setiap lulusannya terjun langsung ke kawasan konservasi, memahami kompleksitas pengelolaannya, serta berkontribusi nyata dalam upaya menjaga kelestarian hutan. 

SDG 17 —  Kemitraan untuk Tujuan: Kemitraan antara Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM dan Balai Taman Nasional Baluran menghasilkan output yang konkret dan dapat dimanfaatkan, bukan hanya pengalaman bagi mahasiswa, tetapi juga data bagi pengelola kawasan.

Tags: SDG 13: Climate Action SDG 14: Life below Water SDG 15: Life on Land SDG 17: Partnerships for the Goals

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Arsip

Universitas Gadjah Mada

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HAYATI DAN VETERINER
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jln. Yacaranda, Gedung Sekip Unit 2 Lt. 1
Depok Sleman Yogyakarta, Indonesia, 55281
Email: dep-thv.sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

TENTANG KAMI

  • VISI DAN MISI
  • PENGELOLA
  • TENAGA PENDIDIK
  • TENAGA KEPENDIDIKAN
  • Hasil Survey

PROGRAM STUDI

  • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
  • Hasil Survey
  • Sarjana Terapan Teknologi Veteriner
  • Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan

AKADEMIK

  • KURIKULUM
  • KALENDER AKADEMIK
  • PANDUAN TUGAS AKHIR
  • JADWAL PENDAFTARAN DAN PELAKSANAAN YUDISIUM

ALUMNI

  • TRACER STUDY
  • LOWONGAN KERJA
  • Hasil Survey

© 2017 DTHV SV Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY