7 April 2026 — Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada mengungkap kerentanan kawasan konservasi terhadap ekspansi kelapa sawit di Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan). Kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia, namun ekspansi yang tidak terkendali dapat menimbulkan dampak serius terhadap kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati.
Penelitian berjudul “Unraveling the Vulnerability of Protected Areas to Oil Palm Expansion: The Case from Tesso Nilo National Park, Sumatra, Indonesia” yang dipublikasikan pada jurnal internasional Environmental Management (Springer) ini menganalisis perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi hutan di Taman Nasional Tesso Nilo selama periode 2004–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial, perubahan tutupan lahan, serta analisis fragmentasi lanskap untuk memahami dinamika tekanan terhadap kawasan konservasi akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan konservasi mengalami tekanan yang signifikan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan fragmentasi habitat, penurunan kualitas ekosistem, serta meningkatnya risiko terhadap spesies kunci seperti gajah Sumatra dan harimau Sumatra. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bahwa perubahan lanskap tidak hanya berdampak pada biodiversitas, tetapi juga berpotensi memengaruhi jasa ekosistem dan keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pencapaian SDGs melalui penyediaan dasar ilmiah dalam perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Temuan utama penelitian meliputi: identifikasi tingkat kerentanan kawasan konservasi terhadap ekspansi sawit, analisis perubahan tutupan lahan selama 20 tahun, serta rekomendasi penguatan pengelolaan kawasan konservasi berbasis lanskap.
Ketua peneliti, Denni Susanto, menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam pengelolaan kawasan konservasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. “Penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan konservasi tetap menghadapi tekanan tinggi meskipun memiliki status perlindungan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan yang lebih terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dan mendukung pencapaian SDGs,” ujarnya.
Penelitian ini menjadi bagian dari komitmen Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penelitian berbasis sains dan kebijakan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pengelola kawasan konservasi, serta pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi konservasi yang efektif dan berkelanjutan.

