Berawal dari ketertarikan terhadap pemanfaatan hasil samping agroindustri, sebuah penelitian doktoral membawa Clara Ajeng Artdita, dosen dari Program Studi Teknologi Veteriner, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi UGM pada eksplorasi pemanfaatan okara atau ampas tahu sebagai bahan pakan yang lebih bernilai. Setelah melalui proses akademik dan penelitian selama beberapa tahun, Clara resmi menyelesaikan pendidikan Doctor of Philosophy (PhD) di Department of Animal Science and Biotechnology, Tunghai University, Taichung, Taiwan, pada akhir Juli 2026. Perjalanan doktoralnya menjadi kajian multidisiplin yang mengintegrasikan animal nutrition, biotechnology, microbiology, dan metabolomics dalam upaya meningkatkan nilai guna hasil samping agroindustri.
Membangun dari Awal
Studi doktoral Clara terdiri atas coursework (perkuliahan) dan penelitian. Setelah menyelesaikan seluruh kewajiban perkuliahan, perjalanan penelitian menghadapi tantangan ketika profesor pembimbingnya berpindah ke National Ilan University, Yilan, Taiwan. Clara kemudian memutuskan untuk mengikuti pembimbingnya dan melanjutkan kegiatan penelitian di universitas tersebut. Pada saat itu, fasilitas laboratorium masih dalam tahap pengembangan sehingga penelitian belum dapat langsung dimulai. Selama sekitar delapan bulan pertama, Clara terlibat dalam proses pengembangan dan penyiapan laboratorium, termasuk mengidentifikasi kebutuhan peralatan serta menyesuaikannya dengan proyek penelitian yang akan dikembangkan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan studinya karena mengajarkannya untuk beradaptasi dan tetap melangkah meskipun kondisi penelitian belum sepenuhnya siap.
Mengubah Hasil Samping Menjadi Potensi Pakan
Fokus penelitian doctoral Clara adalah okara, residu padat yang dihasilkan dari proses pengolahan kedelai dan dikenal luas di Indonesia sebagai ampas tahu. Meskipun masih memiliki kandungan nutrisi, namun kandungan air cukup tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan. Untuk meningkatkan nilai gunanya (valorization), Clara mengembangkan pendekatan solid-state fermentation (SSF) dengan mengkombinasikan okara dan rice bran menggunakan kombinasi beberapa spesies Lactobacillus. Penelitian dilakukan untuk memperoleh kondisi fermentasi yang optimal sekaligus memahami perubahan yang terjadi pada bahan selama proses tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi mampu meningkatkan produksi asam laktat dan mengubah karakteristik nutrisi bahan. Pada kondisi optimal, Lactobacillus menjadi mikroorganisme yang sangat dominan (hingga 98%), sementara sejumlah komponen antinutrisi dan soybean storage protein mengalami penurunan. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan menganalisis aktivitas antibakteri produk fermentasi terhadap Escherichia coli, serta mempelajari perubahan komunitas mikroba dan profil metabolit menggunakan pendekatan microbiota dan metabolomics. “Ketertarikan saya berawal dari pertanyaan sederhana: apakah bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah melalui fermentasi sehingga memiliki nilai guna yang lebih tinggi sebagai bahan pakan?” jelas Clara.
Dari Laboratorium ke Pengujian pada Ayam Broiler
Tahap penelitian berikutnya adalah pengujian in vivo. Produk hasil fermentasi yang dikembangkan, okara-rice bran fermented product (ORFP), diuji pada ayam broiler untuk mengevaluasi potensi pemanfaatannya sebagai suplementasi pakan. Tingkat pemberian yang menunjukkan hasil menarik adalah pada suplementasi ORFP 2,5%, yang mampu mempertahankan feed conversion ratio (FCR) sekaligus meningkatkan panjang vili ileum, salah satu indikator kondisi saluran pencernaan. Analisis lebih lanjut juga menunjukkan adanya perubahan komunitas mikroba dan profil metabolit pada saluran pencernaan ayam. Studi tersebut memperlihatkan adanya potensi ORFP sebagai produk pemanfaatan hasil samping agroindustri dan mendukung pengembangan bahan pakan yang bernilai tambah.
Dari Penelitian Menjadi Kontribusi Ilmiah
Rangkaian penelitian tersebut kemudian menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal Poultry Science, yang diterbitkan oleh Elsevier, yang menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan doktoralnya. Bagi Clara, pencapaian tersebut memiliki makna lebih dari sekadar publikasi atau gelar akademik. Proses panjang yang dilalui (mulai dari coursework, pengembangan laboratorium, penelitian, analisis data, penulisan disertasi, publikasi, hingga ujian akhir) menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketekunan dan kemampuan beradaptasi sebagai peneliti.
“Perjalanan PhD bukan hanya tentang menyelesaikan penelitian dan mendapatkan gelar. Prosesnya mengajarkan saya untuk tetap bertahan ketika kondisi tidak ideal, beradaptasi ketika keadaan berubah, dan terus mencari solusi ketika menghadapi keterbatasan.”, ungkap Clara.
Penyelesaian studi PhD di Tunghai University menjadi pencapaian akademik sekaligus penanda sebuah perjalanan penelitian yang berangkat dari persoalan sederhana mengenai hasil samping agroindustri, kemudian berkembang menjadi kajian lintas disiplin mengenai fermentasi, microbiota, metabolomics, dan nutrisi ternak. Dari okara, penelitian ini menunjukkan bahwa hasil samping yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat memiliki nilai baru melalui ilmu pengetahuan dan inovasi. Penelitian ini juga sejalan dengan sustainable development goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui eksplorasi sumber bahan pakan alternatif serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan hasil samping agroindustri menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah, tetapi juga menunjukkan bagaimana hasil samping agroindustri dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Selain itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pencapaian akademik tidak selalu lahir dari kondisi yang sempurna, melainkan dari kemauan untuk terus belajar, membangun, beradaptasi, dan melangkah maju.
