Yogyakarta, 14 September 2024. Sebuah studi terbaru yang dilakukan di kawasan Wisata Alam Kalibiru telah mengungkapkan pentingnya daya tarik estetika dan nilai ekologis dari arsitektur pohon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model arsitektur pohon yang dapat meningkatkan aspek estetika, kenyamanan, dan nilai ekologis, sehingga memperkaya pengalaman wisata alam. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti yang fokus pada kawasan hutan lindung yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Mandiri di Desa Hargowilis, Kokap.
Tim peneliti mengidentifikasi berbagai jenis pohon di kawasan Hutan Lindung Kalibiru, yang dikelompokkan menjadi dua kategori utama: pohon tinggalan seperti Jati (Tectona grandis), Pinus (Pinus spp.), dan Sonokeling (Dalbergia latifolia), serta pohon tambahan seperti Cemara (Cupressus spp.), Durian (Durio spp.), Nangka (Artocarpus heterophyllus) dan Nyamplung (Calophyllum inophyllum). Klasifikasi ini menyoroti keragaman flora yang berkontribusi pada kekayaan ekologi kawasan tersebut. Hasil studi menunjukkan bahwa kombinasi unik dari model arsitektur pohon di Kalibiru tidak hanya meningkatkan daya tarik visual tetapi juga menawarkan manfaat ekologis yang signifikan. Keberadaan pohon-pohon ini berperan penting dalam adaptasi iklim dengan berfungsi sebagai penyejuk alami dan penyerap karbon, yang sangat diperlukan untuk mitigasi dampak perubahan iklim. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi arsitektur pohon dalam pengelolaan wisata alam.
Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk memberikan panduan dalam pengelolaan wisata alam berbasis ekologi, memastikan bahwa pohon tidak hanya menjadi latar belakang tetapi juga bagian integral dalam menciptakan pengalaman wisata yang holistik. Keberadaan pohon di Kalibiru berfungsi sebagai penyejuk alami, meningkatkan mikroklimat, dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung sambil menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Pelestarian pohon tinggalan dan tambahan, seperti Jati, Pinus, dan Cemara, sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem lokal dan melindungi habitat alami. Dengan mengidentifikasi dan mengoptimalkan model arsitektur pohon yang sesuai dengan keanekaragaman hayati kawasan, penelitian ini mendukung pelestarian ekosistem daratan.

Selain manfaat estetika dan ekologis, studi ini juga menyoroti potensi peluang edukasi di kawasan Kalibiru. Pengunjung dapat belajar tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan peran pohon dalam adaptasi iklim, yang dapat meningkatkan apresiasi terhadap alam dan mendorong praktik wisata berkelanjutan.
Tim peneliti berharap temuan mereka akan menginspirasi para pemangku kepentingan lokal, termasuk lembaga pemerintah dan kelompok masyarakat, untuk memprioritaskan pertimbangan ekologis dalam pengembangan pariwisata. Dengan cara ini, mereka dapat memastikan bahwa keindahan alam Kalibiru dilestarikan untuk generasi mendatang sambil mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Seiring dunia menghadapi tantangan yang semakin meningkat terkait perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, studi seperti ini menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologis ke dalam praktik pariwisata. Kawasan Wisata Alam Kalibiru menjadi model bagaimana arsitektur pohon dapat meningkatkan pengalaman estetika dan integritas ekologis ruang alami.
Sebagai kesimpulan, studi arsitektur pohon di Kalibiru tidak hanya memperkaya lanskap visual tetapi juga berperan penting dalam adaptasi iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati. Ini menjadi pengingat akan keterkaitan antara alam dan pariwisata, mendorong kita untuk mengadopsi praktik berkelanjutan yang menguntungkan baik lingkungan maupun komunitas.