Yogyakarta – Dua mahasiswa dari Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Alifah Khumaini Putri dari prodi Teknologi Veteriner angkatan 22 dan Avellyn Yoan Wiratan dari prodi Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 21, berbagi kisah inspiratif mereka selama mengikuti program IISMAVO 2024 di Nelson Marlborough Institute of Technology (NMIT), New Zealand.
Selama mengikuti perkuliahan di NMIT, keduanya merasakan pendekatan pembelajaran yang berbeda dibandingkan dengan sistem di Indonesia. Evelyn menyebutkan bahwa perkuliahan di sana lebih sering disertai dengan field trip. “Kami belajar langsung ke lapangan, seperti ke kebun apel atau tempat konservasi. Jadi, pembelajaran di sana tidak sekadar dari buku atau slide PPT,” terangnya.
Alifah juga menyoroti sistem pembelajaran yang dilaksanakan secara sistem blok yaitu satu mata kuliah diselesaikan dalam satu hingga dua minggu secara intensif. “Jadi tidak ada tabrakan antar mata kuliah. Fokus belajar satu topik dulu sampai selesai,” tuturnya. Ia juga terkesan dengan fasilitas kampus yang ramah mahasiswa, termasuk penyediaan makanan dan minuman gratis di perpustakaan.
Meski penuh pengalaman berharga, keduanya juga menghadapi tantangan. Evelyn, yang terbiasa dengan fokus pada pengolahan hasil pertanian, harus mempelajari dasar-dasar hortikultura dari nol. “Awalnya cukup kaget karena harus belajar cara menanam, menganalisis cuaca, dan lainnya. Tapi dengan membaca referensi dan diskusi, lama-lama terbiasa,” kenangnya. Bagi Alifa, tantangan terbesar adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam bentuk esai berbahasa Inggris. “Dalam seminggu bisa dua esai. Tapi karena suka dunia perikanan dan konservasi, aku tetap semangat,” ujarnya.
Kepada mahasiswa lain yang ingin mengikuti program serupa, Evelyn menyarankan agar menyesuaikan visi diri dengan nilai-nilai program. “Kalau programnya fokus ke pertukaran budaya, ya tonjolkan sisi itu. Jangan asal kirim esai,” sarannya. Alifa juga turut menambahkan bahwa percaya diri dan kemampuan manajemen waktu sangatlah penting. “Belajar bahasa Inggris sekarang udah gampang, banyak aplikasi gratis. Yang penting niat dan konsisten,” katanya.
Keduanya berharap akan lebih banyak program serupa yang terbuka untuk bidang-bidang vokasi non-teknik ke depannya. Hal ini dikarenakan pilihan universitas luar negeri yang linear dengan bidang mereka masih sangat terbatas. “Banyak teman dari jurusan lain ikut program ini tapi mata kuliahnya gak nyambung. Sayang banget kalau gak bisa maksimal,” tutup Evelyn.