Yogyakarta – Tiga mahasiswa dari DTHV SV UGM berbagi cerita selama menjalani pertukaran pelajar satu semester melalui program Indonesian International Student Mobility Awards for Vocational edition (IISMAVO) 2024 di Institut Polytechnique UniLaSalle, Prancis. Mereka adalah Ghazy Atha Fadlurahman dan Teresa Avilla Arlintang Prastyan dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri 2021 serta Muhammad Fauzan Daffa Attala dari Program Studi Pengelolaan Hutan 2021.
Bagi Ghazy, IISMAVO menjadi kesempatan berharga untuk memperluas wawasan, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam mengenal dunia industri dan budaya global. “Penasaran ingin tahu bagaimana sistem pembelajaran di luar negeri, kehidupan sosial, sampai bagaimana industri agro di sana berkembang. Apalagi program IISMAVO ini nggak hanya fokus pada studi saja, melainkan juga ada industrial visit. Jadi, program ini membuka jalan untuk melihat semuanya secara langsung” ujar Ghazy.
Selama menempuh studi di UniLaSalle, ketiganya memperoleh banyak pengalaman baru yang memperluas cara pandang mereka terhadap bidang pertanian dan lingkungan. Daffa menuturkan bahwa meskipun sebagian besar mata kuliah berfokus pada pertanian, pendekatan yang diajarkan jauh lebih luas dan lintas disiplin. “Kami tidak hanya belajar tentang menanam, tapi juga geologi, mikroplastik, Genetically Modified Organism (GMO), bahkan kelautan. Materinya sangat menyeluruh dan membentuk pemahaman yang terintegrasi tentang agro dan lingkungan,” jelasnya.
Lintang juga menambahkan bahwa sistem perkuliahan di UniLaSalle cukup padat dan kompleks meskipun jumlah mata kuliahnya cenderung lebih sedikit. “Aku cuma ambil lima mata kuliah waktu itu, tapi empat di antaranya bercabang. Satu mata kuliah bisa punya empat kelas per minggu, topiknya beda-beda, dosennya juga beda, bahkan ujiannya pun berbeda. Khususnya kelas common core, yaitu kelas wajib untuk seluruh mahasiswa lintas prodi. Ini kelas campur-campur dan materinya banyak banget. Menurutku ini yang paling draining karena beberapa topiknya lumayan sulit” jelas Lintang.
Program IISMAVO membuka kesempatan bagi ketiga awardee untuk mengenal dunia secara lebih luas. Selama tinggal dan belajar di Prancis, mereka tidak hanya mempelajari budaya baru, tetapi juga memperoleh cara pandang yang lebih terbuka terhadap isu-isu global. Lintang mengaku bahwa pengalaman tersebut membuatnya lebih berani dan percaya diri dalam menghadapi tantangan. Lingkungan baru yang serba berbeda memaksanya untuk keluar dari zona nyaman dan beradaptasi dengan cepat. Sementara itu, Daffa menilai bahwa tinggal di luar negeri memberinya perspektif yang lebih kritis terhadap berbagai isu dunia. Ia menjadi lebih peka terhadap informasi global, mulai dari ekonomi, politik, hingga isu-isu lingkungan yang berkembang.
Selain memperluas wawasan, pengalaman hidup di Prancis juga memberi mereka pemahaman tentang pentingnya keseimbangan hidup. Masyarakat di sana dikenal memiliki etos kerja tinggi, namun tetap menjaga waktu untuk beristirahat dan menikmati kehidupan pribadi. Ghazy menuturkan bahwa toko-toko di Prancis umumnya tutup lebih awal, dan suasana kota menjadi tenang setelah jam kerja—sebuah kebiasaan yang mencerminkan budaya work-life balance yang kuat.
